hukuman komdis

Hukuman Komdis
Masih Terlalu Empuk

Keseriusan Komisi Disiplin dalam memerangi kerusuhan di Djarum Indonesian Super League (ISL) 2008 kembali diuji. Meski tergolong cepat dalam menyikapi kerusuhan di Stadion Mattoangin Makassar, dan insiden Malang, awal pekan ini, tetap saja tanda tanya muncul.

Hingga kini hukuman untuk kelalaian panpel Arema belum ditetapkan. Komdis rencananya masih akan memanggil beberapa orang, seperti ketua panpel Arema M. Mukhlis, Alex Pulalo, dan Emille Bertrand Mbamba, untuk dimintai keterangan.

“Mukhlis sedang sakit. Alex dan Mbamba juga akan kami panggil. Alex terlihat berada masuk ke lapangan padahal ia tak sedang bermain. Mbamba memang selalu kami perhatikan karena sering bermasalah dan masuk ke dalam daftar pemain asing yang not recommended,” lanjut Hinca Panjaitan, Ketua Komdis.

Hukuman untuk PSM pun juga masih empuk. ‘’Kami pasrah, tapi mudah-mudahan saja hukumannya tidak terlalu berat, apalagi pertandingan ini bisa digelar sampai tuntas setelah ada jaminan dari Kapolwiltabes,’’ kata Saad Iranda Dollar, Ketua Panpel.

Konon kepasrahan dan rasa bersalah itu membuat Komdis hanya menilai panitia pelaksana (panpel) PSM tidak siap dalam mengantisipasi kerusuhan. “Panpel PSM kami anggap melanggar Pasal 73 dan 74 Peraturan Pertandingan tentang tanggung jawab dalam menjaga ketertiban selama pertandingan,” ujar Hinca soal hukuman dua kali tanpa penonton PSM dan denda sebesar Rp 20 juta. Sementara itu, para penonton Makassar pun dijatuhi hukuman larangan memakai atribut PSM ke dalam stadion selama setahun.

Lain hal dengan penonton di Malang, yang didominasi Aremania tak berseragam. “Aremania tak kami hukum karena mereka kami anggap tak ada di stadion karena kami larang masuk. Yang ada di situ penonton di Malang,” jelas Hinca menambahi alasan mengapa mereka masih akan mengejar panpel Arema.

Panpel pun berusaha membela diri. “Kenapa panpel masih akan dihukum kalau pemicu kerusuhannya sudah divonis? Kami kan sudah mampu mengamankan 45 menit kali dua tanpa insiden,” ujar Mukhlis, yang sedang istirahat saat dijenguk BOLA di rumahnya. Hal-hal ini pula yang membuat pihak Arema sepertinya tak bisa menerima hukuman itu. (Ary Julianto/cw-4/Indra Ita/Jamaludin)

>> Kembali ke Atas

Jangan Selalu Wasit

Rentetan kasus kerusuhan yang dilakukan suporter klub tuan rumah lantaran klubnya kalah di kandang sendiri mulai dicermati BLI. Kekhawatiran tren buruk kerusuhan yang memaksakan kemenangan ini akan menjalar patut diantisipasi. Apalagi dalam sebagian besar dari kerusuhan itu, wasit pun dituding ikut bermain.

“Saya harap tudingan seperti itu dihilangkan. Mereka kalah bukan karena wasit berpihak, tetapi karena timnya sendiri yang tak main konsisten. Jangan selalu salahkan wasit. Kami selalu mengevaluasi mereka dan jika ada kesalahan, pasti dihukum, namun tak perlu diumumkan,” ungkap Andi Darussalam Tabusala, Ketua BLI, memberi garansi.

Apalagi menurut Andi, wasit mana yang berani bermain api di Malang dan Makassar, yang selama ini dikenal sebagai tempat yang memiliki suporter fanatik dan militan.

Hal sama juga diapungkan Ovan Tobing. “Harap dicatat: saat Arema kalah dari Pelita Jaya, tidak ada kerusuhan dan kemarahan dari penonton kepada wasit atau tim lawan. Jadi tidak benar jika penonton di Malang tidak siap kalah,” jelas dedengkot Aremania.

Kasus di PSM pun lebih disebabkan kekecewaan penonton pada penampilan kiper Syamsidar, yang melakukan dua blunder.

‘’Penampilan Syamsidar belakangan ini memang terus menurun. Dua gol Persela murni kesalahan dia. Dalam sembilan pertandingan PSM di putaran pertama ini, cuma sekali dia tidak kebobolan, saat menghadapi Deltras,’’ ujar Nurmal Idrus, Humas PSM.

Sementara itu, soal hukuman, manajer Arema, Ekoyono Hartono, masih ragu untuk menerima. Namun, untuk kiper Kurnia Meiga, ia berharap diberi keringanan.

“Kurnia Meiga sudah semestinya diberikan advokasi. Dengan umur seperti itu, jika dibiarkan, kariernya bisa rusak,” ujar Ovan.

Leave a Reply